Pada hari Rabu, 25 Februari 2026, telah dilaksanakan Forum Diskusi Ilmiah (FDI) yang diselenggarakan oleh mahasiswa S2 Fakultas Psikologi UNTAR. Diskusi ini dilaksanakan pada pukul 16.00-17.30 WIB melalui aplikasi Zoom Meeting. Tema yang digunakan untuk kegiatan FDI hari ini adalah Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Gamifikasi untuk Peningkatan Kemampuan Pemahaman Bacaan dengan narasumber Ibu Wilyani Handali, M.Psi. dan Bapak Ir. Jap Tji Beng, MMSI., M.Psi., Ph.D., P.E., M.ASCE.
Kegiatan FDI dibuka oleh Bapak Dr. Raja Oloan Tumanggor, S.Ag. selaku moderator, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan kedua narasumber, termasuk penjelasan singkat mengenai profil akademik keduanya. Setelah pengenalan narasumber, acara berlanjut ke presentasi hasil penelitian oleh narasumber.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa permasalahan Indonesia ialah low performing students, artinya belum mencapai kemampuan memahami bacaan tersirat, yang skornya masih di bawah 2, dan belum mencapai lebih dari 5. Untuk mengatasi hal tersebut, Ibu Wilyani melakukan eksperimen penelitian dengan menggunakan gamifikasi. Gamifikasi adalah proses mengubah aktivitas yang telah ada, kemudian menjadikan konten selayaknya permainan. Ibu Wilyani menjelaskan bahwa ide dasar di balik gamifikasi adalah untuk meningkatkan motivasi literasi karena penelitian sebelumnya menunjukkan dengan adanya gamifikasi dapat meningkatkan motivasi dan dengan meningkatnya motivasi diharapkan juga bisa meningkatkan hasil proses pembelajaran.
Dari penelitian ini, harapannya siswa sekolah dasar mampu mengidentifikasi hal-hal yang tidak masuk akal dalam teks dan memahami makna tersirat dari suatu bacaan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan informasi. Kemampuan ini penting di masa sekarang, ketika arus informasi berkembang dengan sangat cepat. Alasan dilakukannya penelitian ini adalah karena peneliti sebelumnya hanya melakukan interview kepada partisipan, belum melakukan tes secara komprehensif dan mendalam untuk mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa individu tersebut mengalami peningkatan dalam kelancaran dan pemahaman bacaan.
Metode penelitian yang digunakan oleh Ibu Wilyani adalah metode kuantitatif dengan desain quasi-experimental, serta menggunakan alat ukur Early Grade Reading Assessment (EGRA). Alasan beliau menggunakan alat ukur EGRA adalah karena sudah terbukti secara penelitian dan sudah dipakai secara global untuk mengukur kemampuan membaca siswa. Selain itu, dilihat dari artikel sebelumnya sebagai referensi yang menunjukkan bahwa untuk tes memahami bacaan, terutama di tingkat TK atau SD biasanya menggunakan alat ukur EGRA, di mana eksperimen ini cocok karena melibatkan partisipan kelas 3-4 SD dengan rentang usia 9-10 tahun sebanyak 20 orang.
Untuk penelitian ini, jenis asesmen EGRA yang digunakan adalah fluency, yang mengukur kelancaran membaca dengan memberikan bacaan dengan jumlah 100 kata dalam waktu satu menit dan comprehension, yaitu menggabungkan kelancaran membaca yang kemudian akan diberikan pertanyaan untuk menguji pemahaman bacaan yang dibaca individu.
Setelah pemaparan hasil penelitian menggunakan gamifikasi, forum kembali dipandu oleh Bapak Raja dan diskusi dilanjutkan ke sesi tanya jawab. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan mengenai penelitian ini, salah satunya diajukan oleh Fildza Fairuzzia, “Apakah ada kemungkinan hasil penelitian akan berbeda ketika ditinjau berdasarkan kategori sekolah? Misalnya sekolah dengan akreditas bagus dan rendah.” Pertanyaan tersebut ditanggapi oleh kedua narasumber, “Gamifikasi lebih ke arah melihat perubahan kemampuan kelancaran membaca, terlepas dari dia start-nya di mana. Mau dia start di tingkatan apapun yang ingin dibandingkan adalah eksperimen dan kontrolnya. Seharusnya, dari kelompok eksperimen dapat tetap mengalami peningkatan literasi.”
Sebagai penutup rangkaian diskusi, dilakukan penyerahan sertifikat secara digital kepada kedua narasumber sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dan pemaparan materi yang telah disampaikan.
Oleh: Jessica Aurelia Sentosa dan Chalisa Azahrah


