Tangerang.
Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (Untar) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilakukan salah satu dosennya, Rahmah Hastuti, M.Psi., psikolog, kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung kesehatan mental dan lingkungan sekolah yang aman melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Be a Buddy, Not a Bully” yang diselenggarakan di Aula SMA Yuppentek 1 Tangerang pada Selasa, 12 Mei 2026.
Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–12.15 WIB ini diikuti oleh 40 siswa terpilih dari kelas X dan XI yang telah ditunjuk sebagai agent of change dalam program pencegahan perundungan di sekolah. Para peserta merupakan angkatan kelima yang telah mendapatkan bimbingan teknis sebagai bagian dari program Kemendikbud dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Acara dipandu oleh Gerald, salah satu siswa SMA Yuppentek 1, dan diawali dengan sambutan dari Ketua Pelaksana P2K Pencegahan Perundungan sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Fadli Ardiansyah, M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada para siswa yang telah bersedia menjadi agent of change dan berperan aktif dalam mendukung program anti perundungan di lingkungan sekolah.
Kepala SMA Yuppentek 1, Ir. H. Nardi, M.Si., turut menyampaikan harapannya agar program ini dapat memperkuat budaya positif di sekolah serta menjadikan sekolah sebagai ruang belajar yang aman dan menyenangkan bagi seluruh siswa.
Kegiatan ini juga didukung oleh guru Bimbingan dan Konseling, yakni Ibu Mira Setia dan Ibu Ulfi, serta tim mahasiswa PKM Fakultas Psikologi Untar, Namira dan Nurhalina Fadilah Rahmah dari angkatan 2025.
Sebagai narasumber utama, Rahmah Hastuti, M.Psi., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi Untar, menyampaikan materi mengenai pencegahan bullying dan cara menghadapi perilaku perundungan secara sehat. Dalam sesi materi, peserta diperkenalkan pada teknik STOP yang dikembangkan oleh Loveymi dan Huamei (2024).
Teknik STOP terdiri dari:
S yaitu Stop, yaitu berhenti sejenak dan tidak langsung bereaksi, termasuk menghindari penggunaan gawai saat menerima pesan negatif di media sosial.
T yaitu Take a Breath, yaitu menarik napas untuk membantu menurunkan emosi.
O yaitu Observe, yakni melakukan refleksi diri dan mempertimbangkan dampak dari respons yang akan diberikan.
P yaitu Proceed, yaitu memilih merespons dengan bijak atau mengabaikan perilaku bullying tersebut.
Penyampaian materi berlangsung interaktif dan diselingi sesi games serta ice breaking yang membuat peserta semakin antusias mengikuti kegiatan. Beberapa siswa juga aktif berbagi pengalaman pribadi dan berdiskusi langsung dengan narasumber.
Salah satu siswa kelas XI bernama Clay, yang telah menjadi agent of change sejak kelas X, menjelaskan berbagai program yang telah dijalankan, termasuk presentasi ke kelas-kelas mengenai bahaya bullying. Ia juga membagikan pengalamannya membuat board games berisi pesan-pesan motivasi dan penguatan rasa percaya diri.
Menurut Clay, hasil analisis kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada siswa kelompok eksperimen yang mendapatkan media board games dibandingkan kelompok kontrol yang tidak memperoleh materi serupa. Program tersebut dinilai efektif dalam membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa.
Diskusi semakin mendalam ketika salah satu siswi bernama Syifa berbagi pengalaman mengenai temannya yang sering mengungkapkan keinginan bunuh diri karena merasa hidupnya tidak adil. Syifa mengaku merasa lelah secara emosional setelah berulang kali mendengarkan curahan hati temannya dan meminta saran kepada narasumber.
Menanggapi hal tersebut, Rahmah Hastuti, Psikolog menjelaskan bahwa empati yang diberikan Syifa merupakan bentuk kepedulian yang sangat baik. Namun, ungkapan keinginan bunuh diri tidak boleh dianggap sepele dan perlu mendapatkan perhatian serius. Narasumber menyarankan agar teman tersebut diarahkan untuk terbuka kepada guru Bimbingan dan Konseling atau memperoleh bantuan profesional dari psikolog maupun psikiater apabila diperlukan.
Pertanyaan lain datang dari Dimas, siswa kelas XI, mengenai cara membantu teman yang melakukan self-harm. Narasumber menjelaskan bahwa penanganan perilaku melukai diri sendiri perlu dilakukan secara individual melalui pendekatan yang suportif dan ruang untuk catharsis atau mengekspresikan perasaan. Jika perilaku tersebut terus berulang, maka diperlukan bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.
Dalam kesempatan tersebut, Rahmah Hastuti juga menjelaskan perbedaan profesi psikolog dan psikiater, termasuk kewenangan masing-masing dalam penanganan kesehatan mental. Psikiater memiliki kewenangan memberikan resep obat, sedangkan psikolog menggunakan pendekatan terapi psikologis seperti Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk membantu mengurangi perilaku maladaptif.
Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi siswa mengenai program Roots Day sebagai bentuk penguatan peran agent of change dalam menciptakan budaya anti perundungan di sekolah.
Acara kemudian ditutup dengan pengisian kuesioner evaluasi kegiatan dan sesi foto bersama seluruh peserta, guru, mahasiswa, serta tim narasumber. Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi Untar berharap para siswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu menebarkan empati, kepedulian, dan keberanian untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari bullying.


