Jakarta, 7 Juli 2026
Ada suasana yang berbeda dalam perayaan Dies Natalis ke-32 Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (Untar). Bukan sekadar peringatan bertambahnya usia, melainkan ruang untuk mengenang perjalanan panjang, merefleksikan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri, sekaligus menatap masa depan dengan optimisme.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi ramah tamah dan berbagi kisah yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB. Dipandu oleh Debora Basaria, M.Psi., Psikolog selaku moderator.

Sedangkan, pada sesi pk. 11.00-12.00
dua mahasiswa Fakultas Psikologi Untar, Gladys dan Christy Agung, mempertemukan para dosen lintas generasi, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni dalam suasana hangat penuh kekeluargaan.
Berbagai kenangan, pengalaman, dan harapan mengalir bergantian dari para dosen yang telah menjadi bagian penting perjalanan Fakultas Psikologi Untar.
Menjadi Saksi Bertumbuhnya Fakultas
Salah satu kisah yang menyentuh datang dari Dr. Ninawati, M.M. Selama lebih dari tiga dekade mengabdi di Untar dan mulai mengajar sejak 1994, ia menyampaikan bahwa sebagian besar dosen yang kini menjadi rekan sejawatnya dahulu adalah mahasiswa yang pernah ia bimbing.
Perjalanan panjang tersebut membuatnya menyaksikan secara langsung perkembangan ilmu psikologi maupun budaya akademik. Ia mengenang bagaimana pembelajaran penulisan ilmiah mengacu pada pedoman American Psychological Association (APA) dari edisi 4 hingga terus berkembang, mulai dari cara membuat kutipan dan sitasi serta Daftar Pustaka di masa penggunaan kaset pada edisi awal pedoman, kemudian beralih ke CD dan video, hingga mengikuti perkembangan gaya penulisan akademik internasional seperti saat ini, pada edisi ketujuh. Baginya, seorang dosen harus terus belajar agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu dinamis.
Dr. Monty P. Satiadarma, MS/AT, MCP/MFCC, DCH., Psikolog, menanggapi cerita tersebut sekaligus menggambarkan bahwa membangun sebuah fakultas tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui komitmen untuk terus memperbarui pengetahuan.
Dari Sebuah Mimpi Menjadi Fakultas yang Bertumbuh
Momentum refleksi juga diwarnai kisah-kisah para pelopor Fakultas Psikologi Untar.
Dr. Monty P. Satiadarma, MS/AT, MCP/MFCC, DCH., Psikolog, mengenang proses berdirinya Fakultas Psikologi Untar. Ia menceritakan bagaimana awalnya diminta bertemu dengan* Prof. Singgih D. Gunarsa, kemudian bersama tim kecil melakukan berbagai persiapan hingga akhirnya izin pendirian Fakultas Psikologi Untar diterima pada 7 Juli 1994 pukul 15.00 WIB.
Menariknya, tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan Tanabata di Jepang, yang dikenal sebagai Hari Kasih Sayang. Bagi Beliau, momentum tersebut menjadi simbol harapan agar Fakultas Psikologi Untar terus bertumbuh dengan semangat kasih, pelayanan, dan kebermanfaatan.
Dr. Monty juga mengingatkan bahwa kualitas pendidikan harus tetap menjadi identitas utama. Menurutnya, riset tidak boleh berhenti pada publikasi semata, melainkan harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. “Apa aplikasinya? Apa kontribusinya?” menjadi pertanyaan yang terus ia dorong kepada sivitas akademika.
Mengenang Generasi Pertama
Suasana nostalgia semakin terasa ketika Sandi Kartasasmita, M.Psi., Psikolog, mahasiswa angkatan pertama, berbagi cerita mengenai masa-masa awal perkuliahan.
Kala itu, jumlah mahasiswa masih sekitar dua puluh orang dengan sistem ujian negara yang masih berlaku. Ia mengenang dedikasi para dosen perintis seperti Prof. Singgih, Dr. Monty, dan Prof. Samsunuwiyati Mar’at yang menjadi fondasi kuat pendidikan psikologi di Untar.
Sebagai peneliti, Sandi Kartasasmita juga berbagi pengalaman ketika meneliti hubungan antara kanker dan emosi marah di bawah bimbingan Dr. Monty. Ia berharap Fakultas Psikologi Untar terus memperkuat bidang psikologi klinis sebagai salah satu kekhasan yang dimiliki.
Kebersamaan yang menjadi Rumah
Refleksi berikutnya datang dari Dr. Meiske Y. Suparman, M.Psi., Psikolog, yang telah mengabdi selama 31 tahun.
Baginya, pengalaman baik maupun pengalaman yang tidak menyenangkan sama-sama menjadi guru kehidupan. Semua perjalanan tersebut membentuk pribadi yang lebih matang dan lebih positif.
Ia berharap semangat kebersamaan, kekompakan, dan rasa memiliki terhadap fakultas terus dipelihara sehingga Fakultas Psikologi Untar semakin dikenal luas melalui kualitas dan kontribusinya.
Senada dengan itu, Denrich Suryadi, M.Psi., Psikolog mengungkapkan bahwa awalnya ia tidak pernah bercita-cita menjadi dosen. Keinginannya hanyalah menjadi psikolog. Namun keputusan memilih Untar, yang awalnya dipengaruhi alasan transportasi, justru mempertemukannya dengan lingkungan yang penuh persahabatan (companionship) dan figur-figur inspiratif seperti salah satunya yaitu Dr. Monty.
Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa perjalanan hidup seringkali membawa seseorang menemukan panggilan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.
Dari Dua Puluh Menjadi Ribuan Mahasiswa
Memasuki sesi pembukaan resmi pukul 11.00 WIB, para pendiri, alumni, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan tamu undangan mulai memenuhi ruangan.
Turut hadir Ir. Jap Tji Beng, Ph.D, Prof. Dr. Seto Mulyadi, Nanin Singgih, S.E., M.M., jajaran pimpinan universitas, serta keluarga besar Fakultas Psikologi Untar.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Psikologi Untar, Dr. P. Tommy Y. S. Suyasa, mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan 32 tahun fakultas.
Beliau menyampaikan bahwa angkatan pertama hanya terdiri atas sekitar 20 mahasiswa, sedangkan angkatan 2026 telah mencapai 377 mahasiswa baru. Saat ini Fakultas Psikologi Untar memiliki sekitar 1.620 mahasiswa aktif dengan sekitar 30 dosen, di antaranya 10 orang sedang menempuh studi doktoral.
Namun di balik rasa syukur tersebut, Dekan juga menyampaikan refleksi mengenai tantangan yang dihadapi, mulai dari penguatan sumber daya manusia, kebutuhan akreditasi, hingga pengembangan tenaga kependidikan.
Baginya, bertambah besar bukan hanya soal jumlah mahasiswa, tetapi juga kesiapan menjaga kualitas pendidikan.
Warisan yang Tidak Pernah Putus
Suasana haru terasa ketika Nanin Singgih menyampaikan sambutan mewakili keluarga mendiang Prof. Singgih Dirga Gunarsa.
Ia mengenang kedekatan keluarga dengan Fakultas Psikologi Untar serta dedikasi mendiang Prof. Singgih dalam membangun psikologi Indonesia. Baginya, perhatian yang terus diberikan Fakultas Psikologi Untar kepada keluarga menjadi ikatan emosional yang tidak pernah terputus.
Sementara itu, Prof. Dr. Seto Mulyadi mengajak seluruh peserta untuk tidak takut gagal.
Ia membagikan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan, mulai dari menjadi guru taman kanak-kanak, pernah hidup sebagai anak jalanan, menyelesaikan pendidikan tinggi dengan berbagai tantangan, hingga akhirnya menjadi Guru Besar.
Menurutnya, ilmu psikologi bukan untuk dihafalkan, melainkan untuk dipraktikkan dalam menghadapi kehidupan.
“Jangan takut gagal. Berani jatuh, tetapi harus bangkit kembali,” menjadi pesan yang menginspirasi seluruh peserta.
Berkarya, Berdampak, Menginspirasi
Perayaan Dies Natalis ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Dadang Rumardi, penayangan video perjalanan Fakultas Psikologi Untar, peluncuran sepuluh buku karya dosen, pemotongan tumpeng bersama para pendiri dan pimpinan universitas, serta foto bersama seluruh sivitas akademika.
Dalam yel-yel penutup, semangat kebersamaan kembali menggema.
“Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara: Berkarya, Berdampak, Menginspirasi.”
Disusul pekikan penuh semangat:
“Psikologi Jaya!”
“Psikologi Hebat!”
“Psikologi Luar Biasa!”



Di usia ke-32, Fakultas Psikologi Untar tidak hanya merayakan perjalanan waktu. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa sebuah institusi dibangun oleh orang-orang yang rela bermimpi, bekerja, belajar tanpa henti, dan mewariskan nilai kepada generasi berikutnya. Dari para pendiri hingga mahasiswa yang baru memulai langkah, semuanya menjadi bagian dari cerita yang sama: menghadirkan psikologi yang berkualitas, relevan, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.





