Rabu, 8 Juli 2026, Educational Cognition and Technology Innovation Laboratory (ECTI Lab.) atau Laboratorium Kognisi Edukasi dan Inovasi Teknologi (Lab. KEIT), menerima kunjungan dari dua profesor internasional. Dua Professor tersebut adalah Prof. Chadi Aoun dan Prof. Savanid (Nui) Vatanasakdakul, pakar kelas dunia dalam bidang Sistem Informasi di Carnegie Mellon University – Qatar. Berdasarkan QS World Rank 2027 by subject, Carnegie Mellon University menempati peringkat 3 terbaik di dunia dalam bidang Computer Science & Information Systems. Dikutip dari U.S. News & World Report, “Carnegie Mellon University consistently ranks as the undisputed #1 in Information Systems.” Kedua profesor tersebut merupakan teman baik dari Associate Professor Jap Tji Beng, saat mereka menempuh pendidikan S3 di University of New South Wales, Australia.
Dalam kunjungan serta reuni tersebut, berlangsung diskusi yang hangat dan kekeluargaan antara kedua profesor internasional (Prof. Chadi dan Prof. Nui) dengan Para Periset dan Asisten Riset di Educational Cognition and Technology Innovation Laboratory (Assoc. Prof. Sri Tiatri, Assoc. Prof. Jap Tji Beng, Margareta, S.Psi., Tasya Mulia Salsabila, S.Kom., Cintya Syarah Azzahra, Karina Intania Septiani, Shira Vania Prasetiyo, Alysa Nurul Mufida, dan Septhy Christia Brigita).
Diskusi ini terutama membahas tentang pengalaman serta tantangan yang Prof. Chadi dan Prof. Nui hadapi selama menempuh pendidikan. Mereka juga membagikan pengalaman dalam menjalankan riset, serta rencana dan minat riset yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat di masa yang akan datang. Dalam pertemuan ini, Educational Cognition and Technology Innovation Laboratory menyuguhkan Prof. Chadi dan Prof. Nui hidangan cakwe yang dibuat oleh salah satu asisten riset (Cintya) serta kopi yang dibuatkan oleh “barista” Assoc. Prof. Jap Tji Beng.
Setelah pertemuan selesai dan mereka tiba di hotel, melalui pesan WhatsApp, Prof. Chadi dan Prof. Nui menyampaikan ucapan terima kasih. Mereka juga mengungkapkan rasa senang dapat kembali bertemu dan menikmati momen reuni. Selain itu, mereka menyampaikan antusiasme terhadap diskusi mengenai potensi kolaborasi riset. Rencana kolaborasi riset ini terutama akan mengintegrasikan bidang Psikologi dan Teknologi (AI).
Kegiatan diskusi yang dilaksanakan bersama kedua Profesor tersebut memberikan banyak pelajaran berharga bagi para Asisten Riset di Educational Cognition and Technology Innovation Laboratory. Selain memperoleh wawasan baru, para Asisten Riset juga mengungkapkan rasa senang dan antusias karena memperoleh kesempatan untuk berdiskusi secara langsung serta bertukar gagasan mengenai potensi kolaborasi riset di masa mendatang.
Cintya (Mahasiswa Sistem Informasi angkatan 2023) menyatakan bahwa ia belajar dari Prof. Nui mengenai pengaruh lingkungan terhadap perkembangan diri. Perpindahan Prof. Nui dari Thailand ke Australia mengubah cara berpikir, memecahkan masalah, serta membentuk perspektif yang lebih luas terhadap potensi dirinya. Karina (Mahasiswa Sistem Informasi angkatan 2025) belajar bagaimana cara Prof. Nui menempatkan diri di berbagai situasi dan kondisi lingkungan. Vania (Mahasiswa Sistem Informasi angkatan 2025) juga terkesan dengan perjuangan Prof. Nui dalam membuktikan kemampuan dan potensi dirinya. Pengalaman tersebut menginspirasi para Asisten Riset untuk terus mengembangkan kapasitas diri, bersikap adaptif, serta berani menghadapi berbagai tantangan dalam dunia akademik dan penelitian.
Tasya (lulusan Sistem Informasi Untar angkatan 2021, dan sedang menjalankan pendidikan S2 di UI) memandang Prof. Nui sebagai sosok wanita yang memiliki semangat juang yang tinggi dan tidak pernah berhenti untuk terus mempelajari hal-hal baru. Ketekunan ini memberikan pandangan baru bahwa lingkungan belajar juga berperan penting untuk perkembangan individu. Lingkungan yang positif dan suportif dapat mendorong keinginan individu untuk belajar, mengembangkan diri, serta berani mengeksplorasi hal baru. Sebaliknya, jika lingkungan tidak mendukung maka dapat menghambat motivasi untuk berinovasi dan menciptakan hal-hal baru.
Alysa (Mahasiswa Psikologi angkatan 2025) memperoleh pelajaran untuk terus memperdalam dan mempelajari bidang yang diminati hingga mencapai potensi terbaik dirinya. Septhy (Mahasiswa Psikologi angkatan 2025) juga mengungkapkan bahwa ia belajar dari Prof. Nui mengenai pentingnya keinginan terus melangkah maju (keep moving forward) dalam menghadapi setiap tantangan dan proses untuk meraih tujuan akhir. Ketekunan, konsistensi, dan semangat berkembang menjadi nilai yang para Asisten Riset peroleh dari pengalaman diskusi bersama dengan Prof. Nui.
Margareta (lulusan Psikologi angkatan 2021, yang sedang mendaftar S2 Psikologi di Untar) memperoleh pelajaran dari Prof. Chadi bahwa di era Artificial Intelligence (AI), pendidikan tetap berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Selain pengetahuan dan kompetensi, individu perlu membangun kepercayaan dari orang lain melalui integritas dan profesionalitas. Prof. Chadi juga menekankan pentingnya terus belajar untuk menjaga sikap kerendahan hati (humbleness) dalam berbagai situasi. Selain itu, Prof. Chadi menyampaikan AI hanya berperan sebagai alat (tools) untuk mendukung pekerjaan manusia, tetapi manusialah yang tetap berperan sebagai pengendali dalam pemanfaatannya. Penggunaan AI perlu diselaraskan dengan logika manusia (human logic) untuk mendukung keberlanjutan (sustainability) dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi.
Melalui diskusi dengan Prof. Nui, Margareta juga memperoleh pelajaran mengenai pentingnya memiliki semangat untuk belajar, belajar, dan terus belajar kembali. Selain mengembangkan diri, individu juga perlu membantu orang lain untuk memperoleh kesempatan belajar dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan bersama. Prof. Nui juga menjelaskan pengalamannya dalam mengelola laboratoriumnya. Dedikasi dan komitmen yang sangat tinggi menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan laboratoriumnya. Selain itu, etos kerja yang tinggi dan kegigihan merupakan faktor penting dalam mencapai tujuan. Meskipun dalam proses tersebut sering kali menuntut Prof. Nui mengalokasi waktu istirahatnya untuk bekerja dan menyelesaikan tanggung jawabnya.
Pengalaman para mahasiswa yang menjadi Asisten Riset di Educational Cognition and Technology Innovation (ECTI) Laboratory tersebut dapat memberikan wawasan bagi para pengelola pendidikan, bahwa interaksi dengan Profesor dan peneliti kelas dunia dapat membuka pola pikir baru, dan membangkitkan semangat serta memotivasi mahasiswa untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensi diri. (ST/JTB/M)

