Forum Diskusi Ilmiah Magister Psikologi: Analisis Korelatif Keharmonisan Keluarga terhadap Psychological Well-Being Ayah

Rabu, 4 Maret 2026, pada pukul 16.00-17.30, telah dilaksanakan Forum Diskusi Ilmiah (FDI) yang kedua oleh mahasiswa S2 Fakultas Psikologi (F.Psi.) Universitas Tarumanagara (UNTAR). Diskusi kedua ini mengangkat isu kesehatan mental pria dalam perannya sebagai tulang punggung keluarga, sebuah isu yang selama ini sering terabaikan oleh masyarakat luas, terutama masyarakat Indonesia. Narasumber yang membawakan topik ini adalah Ibu Naomi Soetikno, M.Pd., Psikolog dan Ibu Agathea Maybelle B., M. Psi, psikolog, CHt.

Bapak Dr. Raja Oloan Tumanggor, S.Ag. kembali memimpin jalannya FDI kedua ini. Mengawali sesi sebagai moderator, beliau memperkenalkan profil akademik para narasumber untuk memberikan gambaran kompetensi mereka dalam membedah topik kesehatan mental pria.

Di Indonesia, konstruksi maskulinitas yang menempatkan laki-laki sebagai tulang punggung tunggal masih sangat dominan. Ibu Naomi menyatakan bahwa peran ini telah terinternalisasi sejak dini sehingga pria merasa memikul beban nafkah sepenuhnya. Beliau juga menekankan terdapat ketimpangan perhatian, meski kesehatan mental ibu sering menjadi fokus, kondisi psikologis ayah justru kerap terabaikan. Hal ini diperkuat oleh paparan Ibu Agathea yang merujuk pada data World Health Organization (WHO) mengenai tingginya angka bunuh diri pada pria dibandingkan wanita. Ibu Agathea juga menambahkan dinamika ekonomi rumah tangga, di mana keterlibatan istri dalam bekerja dapat meringankan beban stres suami. Namun, terdapat risiko psikologis berupa perasaan minder atau inferioritas pada pria jika penghasilan istri jauh lebih mendominasi.

Dalam sesi presentasi tesis, Ibu Agathea memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul Mental Health of Indonesian Male Breadwinners: Family Harmony as a Moderator between Perceived Stress and Psychological Well-being. Penelitian ini dilakukan pada pertengahan tahun 2024 dan dipublikasikan pada awal tahun 2025 dalam Graduate Student Journal of Psychology yang diterbitkan oleh Columbia University.

Dalam pemaparannya, Ibu Agathea menjelaskan bahwa penelitian tersebut diangkat dari ketertarikannya terhadap isu kesehatan mental pria, khususnya dalam konteks keluarga di Indonesia. Beliau menyoroti bahwa laki-laki sering kali dihadapkan pada ekspektasi sosial untuk menjadi pencari nafkah utama sekaligus sosok yang kuat dan tidak menunjukkan kerentanan emosional. Kondisi ini menyebabkan kesehatan mental pria kerap kurang mendapatkan perhatian dibandingkan kelompok lain, meskipun berbagai penelitian menunjukkan bahwa laki-laki juga rentan mengalami tekanan psikologis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres yang dirasakan memiliki hubungan negatif dengan kesejahteraan psikologis. Artinya, semakin tinggi tingkat stres yang dialami individu, maka semakin rendah tingkat kesejahteraan psikologisnya. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa keharmonisan keluarga memiliki peran sebagai faktor pelindung yang dapat melemahkan dampak negatif stres terhadap kesejahteraan psikologis. Dengan kata lain, hubungan keluarga yang harmonis mampu membantu individu mempertahankan kesejahteraan psikologis meskipun sedang menghadapi tekanan hidup. Ibu Agathea juga menekankan pentingnya dukungan keluarga sebagai sumber kekuatan emosional bagi pria pencari nafkah. Ia juga menyampaikan bahwa upaya menjaga keharmonisan keluarga dapat menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung kesehatan mental pria, baik melalui hubungan interpersonal yang sehat, komunikasi yang terbuka, maupun dukungan dari lingkungan keluarga dan tempat kerja.

Menjelang penghujung acara, Bapak Raja memberikan kesempatan bagi audiens untuk berinteraksi langsung melalui sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh Michelle adalah, “Bentuk dukungan apa yang bisa diberikan kepada pria pencari nafkah dalam menghadapi tekanan dunia kerja?”. Menanggapi pertanyaan itu, Ibu Agathea menjelaskan bahwa dukungan dapat diberikan melalui aspek keharmonisan keluarga seperti komunikasi yang saling peduli, tidak saling mendominasi, serta mempunyai waktu yang berkualitas bersama keluarga.

Pertanyaan lainnya diajukan oleh Aurellia mengenai cara keluarga dapat menciptakan komunikasi yang sehat agar pria merasa aman mengungkapkan beban psikologisnya. Ibu Agathea menjelaskan bahwa secara sosial dan budaya pria akan cenderung jarang bercerita sehingga keluarga perlu membangun komunikasi yang terbuka tanpa memaksa. Komunikasi dapat dimulai dari membicarakan hal ringan, seperti hobi atau aktivitas sehari-hari. Ibu Naomi juga menambahkan, betapa pentingnya menjadi pendengar yang baik serta menggunakan I statement, yaitu menyampaikan perasaan dari sudut pandang diri sendiri tanpa menyalahkan pasangan. Selain itu, terdapat pertanyaan mengenai apakah keharmonisan keluarga selalu menjadi faktor penyangga bagi pria pencari nafkah dalam menghadapi tekanan hidup. Ibu Agathea menjelaskan, keharmonisan keluarga memang dapat berperan sebagai faktor pelindung, tetapi sifatnya dinamis dan perlu dijaga oleh seluruh anggota keluarga, karena keluarga merupakan sistem yang saling terhubung. Ikatan emosional dan kelekatan antar anggota keluarga dapat membantu mengurangi dampak stres yang dialami pria sebagai pencari nafkah.

Sebagai penutup, kegiatan FDI kedua ini memberikan ruang refleksi bagi para peserta mengenai pentingnya memperhatikan kesehatan mental pria, khususnya dalam perannya sebagai tulang punggung keluarga. Diskusi ini menegaskan bahwa kesejahteraan psikologis pria tidak hanya dipengaruhi oleh tuntutan ekonomi, tetapi juga oleh dukungan emosional, komunikasi yang sehat, serta dinamika hubungan dalam keluarga.

Sesi ini kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada kedua narasumber secara daring atas pemaparan yang sudah diberikan. Penyerahan ini, menjadi simbol penghargaan sekaligus berakhirnya sesi diskusi ilmiah yang telah disampaikan.

Oleh: Allycia Stevani dan Evillyne Sepbrina

Berita Terbaru

Agenda Mendatang

 

20

November

Kunjungan Fakultas Psikologi UNJANI

22-29

November

International Student Mobility ke Edith Cowan University

1-2

Desember

Workshop OBE

1-5

Desember

Ujian Akhir Semester
Fakultas Psikologi, Jurusan Psikologi, Kuliah Psikologi, Sarjana Psikologi, Magister Psikologi, Jakarta, FPSI Untar, Universitas Tarumanagara