
Acara perdana diselenggarakan pada Selasa, 14 April 2026 pukul 20.00–20.45 WIB melalui Instagram Live, dengan mengangkat tema “Anak Insecure Sejak Dini? Memahami Tanda-Tanda Awal Tanpa Overdiagnosis.”
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Agustina, M.Psi., Psikolog (Pakar Psikologi Perkembangan Anak) dan Kaca Takita, S.Psi., Psikolog (yang merupakan alumni prodi pendidikan profesi psikolog angkatan ke-1),
serta dimoderatori oleh Dr. Naomi Soetikno, M.Pd., psikolog (Kaprodi Pendidikan Profesi Psikolog).
Insecure pada Anak: Tidak Bisa Disimpulkan Secara Instan
Dalam diskusi, para narasumber menekankan bahwa rasa insecure pada anak tidak dapat langsung dianggap sebagai gangguan psikologis. Orang tua perlu memahami terlebih dahulu konteks perilaku dan tahap perkembangan anak.
Pada usia dini, terutama di bawah 5 tahun, kemampuan regulasi emosi anak masih belum berkembang secara optimal. Anak sering kali belum mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan, sehingga peran orang dewasa menjadi sangat penting dalam membantu anak mengenali dan mengekspresikan emosi.
Perkembangan Bahasa dan Emosi yang Saling Berkaitan
Kemampuan anak dalam mengekspresikan emosi sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa. Anak yang cenderung pendiam atau memiliki keterbatasan dalam komunikasi sering kali terlihat “menutup diri”, padahal mereka hanya belum mampu menyampaikan perasaannya.
Dalam kondisi ini, orang tua diharapkan lebih peka dan aktif mengajarkan anak mengenali emosi, sekaligus menciptakan ruang komunikasi yang aman dan suportif.
Kesalahan Umum Orang Tua yang Memperparah Insecurity
Salah satu poin penting yang dibahas adalah kesalahan yang sering tidak disadari orang tua, seperti:
* Memberikan label negatif pada anak (misalnya “pemalu”, “penakut”)
* Terlalu cepat menyimpulkan kondisi anak sebagai gangguan
* Kurangnya validasi terhadap perasaan anak
Padahal, anak pada dasarnya membutuhkan validasi dari lingkungan terdekatnya. Label negatif justru dapat memperkuat rasa tidak aman (insecure) dalam diri anak.
Kapan Perlu Membawa Anak ke Psikolog?
Pertanyaan penting yang juga diangkat adalah kapan waktu yang tepat untuk membawa anak ke psikolog.
Para narasumber menjelaskan bahwa sebelum mengambil langkah tersebut, orang tua perlu memahami apakah perilaku anak masih sesuai dengan tahapan perkembangan usianya. Misalnya, pada usia 4–5 tahun, anak masih dalam tahap belajar mengelola emosi dan membangun relasi sosial.
Namun, jika perilaku yang muncul dengan ciri-ciri: berlangsung terus-menerus, mengganggu fungsi sehari-hari anak, atau semakin intens, maka konsultasi dengan psikolog dapat menjadi langkah yang tepat.
Selain berdiskusi, paparan dari psikolog lulusan Untar, baik Agustina, M.Psi., psikolog yang juga selain psikolog juga Dosen di Fakultas Psikologi Untar sekaligus Koordinator Mata Kuliah MBKM Proyek Kemanusiaan.
Contoh Kasus: Anak Usia 5 Tahun yang Sedih karena Tidak Diajak Bermain
Dalam kasus anak usia 5 tahun yang merasa sedih karena tidak diajak bermain, orang tua dianjurkan untuk:
* Memvalidasi perasaan anak (“Kamu sedih ya karena tidak diajak?”)
* Membantu anak memahami situasi
* Melatih keterampilan sosial secara bertahap
Respons yang empatik akan membantu anak merasa dipahami, sekaligus membangun kepercayaan diri mereka dalam bersosialisasi.
Peran Orang Tua: Antara Melindungi dan Memandirikan
Diskusi juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara melindungi dan memberi ruang bagi anak untuk mandiri. Orang tua yang terlalu mengekang sering kali dilatarbelakangi oleh kekhawatiran berlebih.
Padahal, anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba hal-hal kecil secara mandiri sebagai bagian dari proses perkembangan mereka.
Apakah Tahapan Perkembangan Bisa “Dikejar” Saat Dewasa?
Menariknya, topik mengenai tahap perkembangan psikososial juga dibahas, termasuk apakah fase perkembangan seperti yang dikemukakan Erikson dapat “dipenuhi kembali” saat dewasa.
Jawabannya, perkembangan manusia bersifat dinamis. Meskipun ada tahapan yang idealnya dilalui pada usia tertentu, individu tetap memiliki peluang untuk mengembangkan aspek-aspek tersebut di tahap kehidupan berikutnya, terutama dengan dukungan lingkungan dan kesadaran diri.
Menjadi Orang Tua adalah Proses Belajar
Sebagai penutup, narasumber menekankan bahwa menjadi orang tua adalah proses belajar yang berkelanjutan. Orang tua tidak dituntut untuk sempurna, tetapi diharapkan mampu menjadi pendamping yang hadir, memahami, dan memberikan arahan yang tepat bagi anak.
Program “Psikolog Untar Bicara” diharapkan dapat terus menjadi wadah edukasi yang membantu masyarakat memahami isu psikologis secara lebih bijak, tanpa stigma, dan tanpa overdiagnosis.
Acara ditutup dengan informasi yang disampaikan oleh moderator yaitu Dr. Naomi Soetikno, M.Pd., psikolog sekaligus sebagai Kaprodi Pendidikan Profesi Psikolog, menghimbau peserta yang hadir mengenai pembukaan pendaftaran mahasiswa baru untuk Semester Ganjil 2026/2027.
Ulasan berupa liputan kegiatan ini disusun oleh Rahmah Hastuti, M.Psi., psikolog (Manager Kerja Sama dan Humas Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara)
