Forum Diskusi Ilmiah: Efektivitas Art Therapy untuk Penurunan Gejala PTSD dan Peningkatan Self-Esteem

Pada 1 April 2026, telah dilaksanakan Forum Diskusi Ilmiah (FDI) Magister Psikologi Universitas Tarumanagara (UNTAR). Kegiatan ini dilaksanakan pada pukul 19.00–21.00 melalui aplikasi Zoom Meeting. Tema diskusi  yang dibawakan adalah “Efektivitas Art Therapy dalam Menurunkan Gejala Post Traumatic Stress Disorder dan Meningkatkan Self-Esteem pada Perempuan Korban Kekerasan dalam Pacaran.”

Diskusi dimulai dengan pembukaan oleh Bapak Made Budiana selaku moderator, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan narasumber. Narasumber FDI pada kali ini adalah Ibu Shakira Novel, S.Psi., Psikolog dan Bapak Dr. Monty P. Satiadarma, S.Psi., MS/AT, MCP/MFCC, DCH, Psikolog. Setelah sesi pengenalan narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh kedua narasumber.

Kekerasan dalam pacaran (KDP) merupakan salah satu bentuk tindakan kekerasan yang sering terjadi terhadap pasangan yang belum menikah, mencakup kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan ekonomi. Fenomena ini seringkali tidak disadari, bahkan dinormalisasikan dalam relasi interpersonal sehingga korban cenderung bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Kondisi ini memiliki dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan psikologis perempuan, termasuk post-traumatic stress disorder (PTSD) dan self-esteem rendah.

PTSD merupakan gangguan akibat trauma yang ditandai oleh intrusi, penghindaran, perubahan emosi atau kognisi, serta hiperarousal. Kondisi ini memiliki keterikatan yang erat dengan self-esteem, di mana pengalaman traumatis seringkali memengaruhi cara individu dalam memaknai dirinya sehingga biasanya muncul perasaan tidak berharga, menyalahkan diri sendiri, serta hilangnya kepercayaan diri. Oleh sebab itu, dibutuhkan intervensi yang mampu membantu individu dalam membangun kembali penghargaan terhadap dirinya dan tidak hanya terfokus pada penurunan atau pengurangan gejala trauma. Salah satu intervensi yang dapat dilakukan adalah art therapy, yaitu pendekatan berbasis seni yang memungkinkan individu untuk mengekspresikan emosi, meningkatkan kesadaran diri dan keterampilan sosial, serta mengurangi trauma dan meningkatkan self-esteem.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kak Shakira dan Pak Monty melakukan penelitian untuk mengukur seberapa efektif art therapy dalam menurunkan gejala PTSD dna meningkatkan self-esteem pada perempuan korban kekerasan dalam pacaran. ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental pre-post test dengan melibatkan 30 partisipan yang terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Berdasarkan penelitian ini, art therapy terbukti efektif dalam memberikan manfaat psikologis bagi perempuan korban kekerasan dalam pacaran, yang ditunjukkan oleh penurunan gejala PTSD dengan rata-rata 65 poin dan peningkatan self-esteem dengan rata-rata 27 poin. Terdapat analisis tambahan berupa analisis hasil gambar dari kelompok eksperimen yang menunjukkan adanya perubahan emosional yang positif karena meningkatkan pemahaman diri terutama saat proses intervensi berlangsung. Melalui pengelolaan gejala yang lebih baik, partisipan mampu menerapkan coping skills, mendapatkan kembali kontrol atas hidup mereka, serta meningkatkan penilaian diri mereka menjadi lebih positif (self-esteem).

Kemudian, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh peserta. Salah satu pertanyaan diajukan oleh Fildza Fairuzzia yang menanyakan “Bagaimana cara memastikan jika penggunaan art therapy tidak memicu trauma pada klien PTSD?” Pertanyaan ditanggapi dengan baik oleh kedua narasumber. “Setiap kali melakukan intervensi, kita akan melakukan closure dan kita membantu regulasi emosi klien untuk lebih release sehingga pengalaman traumatis yang sebelumnya dibuka kembali saat intervensi tidak dibiarkan memburuk,” jawab Ibu Shakira. Lalu, ditambahkan oleh Pak Monty, “Terapis harus mewaspadai kondisi apakah intervensi membangkitkan traumanya. Menurut pendekatan Ganim, seberapa jauh yang dirasakan klien pada saat ini. Klien tidak diperbolehkan untuk diajak kilas balik terlalu cepat karena akan sakit rasanya dan juga klien tidak hanya mengingat kembali, tetapi juga mengalami kembali peristiwa di masa lampau. Selain itu, untuk mendapatkan hasil yang signifikan, dibutuhkan kepatuhan klien dalam mengikuti seluruh rangkaian sesi intervensi.”

Kegiatan diskusi kemudian ditutup oleh moderator sebagai penanda berakhirnya Forum Diskusi Ilmiah. Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan pemaparan materi yang telah diberikan, sertifikat penghargaan diserahkan kepada Bapak Monty dan Ibu Shakira pada akhir kegiatan.

 

BUPSI

Chalisa Azahrah dan Jessica Aurelia Sentosa

 

Berita Terbaru

Agenda Mendatang

 

20

November

Kunjungan Fakultas Psikologi UNJANI

22-29

November

International Student Mobility ke Edith Cowan University

1-2

Desember

Workshop OBE

1-5

Desember

Ujian Akhir Semester
Fakultas Psikologi, Jurusan Psikologi, Kuliah Psikologi, Sarjana Psikologi, Magister Psikologi, Jakarta, FPSI Untar, Universitas Tarumanagara