Seminar Nasional World Mental Health Day 2026: Kolaborasi AI dan Profesional dalam Pencegahan Kesehatan Mental yang Lebih Dini

Menjaga kesehatan mental di dunia kerja tidak cukup hanya dengan menangani masalah yang sudah terjadi, tetapi juga perlu dilakukan melalui pencegahan sejak dini. Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dapat mendukung proses tersebut, dengan tetap memperhatikan validasi ilmiah, perlindungan data, dan penilaian manusia yang bertanggung jawab.

Gagasan ini menjadi fokus Seminar Nasional World Mental Health Day 2026 bertajuk “From Reactive to Intelligent Prevention: AI Powered Workforce Readiness, Psychosocial Risk & Preventive Mental Health” yang berlangsung pada Sabtu (10/10/2026) di Auditorium Gedung M Lantai 8, Kampus I Universitas Tarumanagara (UNTAR). Seminar ini mempertemukan profesional lintas bidang untuk membahas pencegahan kesehatan mental dan kesiapan tenaga kerja. Mengusung topik “World Mental Health Day 2026: From Mental Health Awareness to Organisational Intelligence”, kegiatan ini menekankan pentingnya kolaborasi individu, organisasi, dan tenaga profesional dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor UNTAR, Assoc. Prof. Sri Tiatri, Ph.D., Psikolog, menekankan pentingnya deteksi dini dan pemanfaatan AI yang tetap menempatkan manusia

sebagai pengambil keputusan dengan mempertimbangkan kompetensi, etika, dan nilai kemanusiaan.

Sejalan dengan hal tersebut, pendiri DexWellness, David Wongso, S.Psi., MM., MBA., M.Min., menekankan bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari human sustainability yang membutuhkan kolaborasi lintas profesi, mulai dari kesiapan tenaga kerja, pengelolaan risiko psikososial, hingga skrining kesehatan mental.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Dr. Andik Matulessy, Psikolog, menyoroti pentingnya promosi, pencegahan, dan identifikasi dini, dengan keberhasilan yang diukur melalui akses bantuan, efektivitas dukungan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Acara berlanjut dengan sesi penyerahan Memorandum of Understanding (MoU) antara PP HIMPSI dan DexWellness.

Setelah penyerahan, Bapak Edhi Tjahja Negara, kembali membahas mengenai peran kesehatan mental karyawan dalam keberhasilan bisnis. Bapak Edhi juga menambahkan bahwa perusahaan perlu melakukan pencegahan sejak dini, mendukung kesejahteraan karyawan, serta menjaga keseimbangan antara kondisi karyawan dan produktivitas perusahaan.

Gagasan tersebut kemudian menjadi landasan pembahasan dalam sesi panel pertama seminar, “Preventive Mental Health Intelligence”, yang dimoderatori oleh Dr. Raja Oloan Tumanggor. Sesi ini menghadirkan Prof. Dr. Abdul Kadir, Dr. P. Tommy Y. S. Suyasa, Psikolog, dan David Wongso, M.M., M.B.A., Psikolog. Sementara itu, Dr. Sumaryono Sri Noto, M.Si., Psikolog, berpartisipasi secara daring.

Diskusi ini diawali oleh Prof. dr. Abdul Kadir yang menjelaskan bahwa skrining dapat membantu mendeteksi risiko kesehatan mental sejak dini. Namun, hasilnya perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut atau bantuan profesional. Dr. P. Tommy juga menjelaskan bahwa alat deteksi perlu diuji untuk memastikan hasilnya akurat. Sementara itu, Dr. Sumaryono membahas konsep “Change Spirit” yaitu pentingnya mengelola stres, beradaptasi, terus berkembang dan menjaga hubungan baik di tempat kerja.

Kemudian, Bapak David memperkenalkan Jaydii Al, yang membantu mendeteksi risiko kesehatan mental melalui pemindaian wajah dan kuesioner. Teknologi ini sudah diuji coba di Klinik Semanan dengan melibatkan 120 partisipan, bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi UNTAR. Bapak David menegaskan bahwa AI hanya membantu mendeteksi risiko sejak dini dan tidak menggantikan peran tenaga profesional.

Dalam sesi diskusi, moderator memberikan pertanyaan tentang cara memperluas skrining kesehatan mental tanpa mengurangi ketepatan hasilnya. Prof. Abdul Kadir menanggapi bahwa alat skrining perlu divalidasi dengan membandingkan hasilnya dengan instrumen yang sudah terstandar. Pak Tommy juga menambahkan bahwa alat tersebut juga harus akurat, mudah digunakan, dan bermanfaat bagi penggunanya.

Kemudian, sesi diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber oleh Assoc. Prof. Sri Tiatri. Acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara ICCN dan DexWellness Jaydii AI oleh Dr. Rosaria Mita Amalia dan Bapak David Wongso sebagai bentuk kerja sama dengan pusat karir dari 250 perguruan tinggi di Indonesia.

Setelah sesi coffee break, acara dilanjutkan dengan sesi B dengan tema “Workforce Readiness Intelligence” yang membahas kesiapan kerja dari sisi fisik, mental, dan lingkungan kerja. Sesi

ini menghadirkan Dr. Retno Hanggarani Ninin, M.Psi., Psikolog, Elvira Putri, M.B.A., Dr. dr. Ernawati, S.E., M.S., Sp.KKLP, serta David Wongso, M.M., M.B.A., Psikolog.

Pada sesi ini, Dr. Retno menjelaskan bahwa kesiapan kerja tidak hanya ditentukan oleh kompetensi, tetapi juga kondisi psikologis dan lingkungan yang mendukung. Selanjutnya, Ibu Elvira, menyoroti kelelahan sebagai salah satu penyebab kecelakaan kerja, sedangkan Dr. Ernawati, menekankan pentingnya menilai kesiapan kerja berdasarkan kondisi kesehatan dan tuntutan pekerjaan, serta penggunaan AI untuk deteksi dini masalah kesehatan, meskipun validasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan keakuratan.

Sesi dilanjutkan dengan demonstrasi aplikasi Jaydii AI oleh Bapak David bersama Bapak Afif. Aplikasi ini dapat membantu memantau kondisi karyawan melalui check-in harian dan kuesioner psikologis. Hasilnya dapat digunakan untuk mengenali risiko kesehatan lebih awal, tetapi tetap perlu divalidasi oleh tenaga profesional.

Dalam sesi diskusi, moderator menanyakan apakah pekerja yang lolos medical check-up tetapi mengalami gangguan tidur tetap dikatakan siap menjalankan pekerjaan berisiko tinggi. Dr. Retno menjelaskan bahwa kesiapan kerja perlu dinilai berdasarkan kondisi kesehatan dan tuntutan pekerjaan, bukan hanya hasil pemeriksaan kesehatan.

Ibu Elvira juga menambahkan bahwa perusahaan dapat menggunakan checklist, pengawasan supervisor, dan teknologi untuk mendeteksi kelelahan. Sementara itu, Bapak David menegaskan bahwa AI hanya membantu mendeteksi risiko, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia atau tenaga profesional. Dr. Ernawati juga menekankan bahwa hasil pemeriksaan perlu disesuaikan dengan kondisi para pekerja.

Sesi kedua diakhiri dengan penyerahan sertifikat oleh Assoc. Prof. Sri Tiatri, sebagai bentuk apresiasi kepada narasumber dan moderator.

Acara dilanjutkan dengan sesi “Call to Action” oleh Prof. Dr. Henndy Ginting, M.Si., Psikolog, yang menekankan pentingnya asesmen dan intervensi berbasis bukti ilmiah sesuai kebutuhan organisasi. Peserta diajak menyusun langkah nyata dalam 90 hari ke depan serta memperkuat kolaborasi lintas bidang, termasuk psikologi, kedokteran, HR, dan AI. Ia juga menyoroti pentingnya evaluasi hasil asesmen dan berpikir kritis dalam menggunakan data untuk pengambilan keputusan.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan sambutan dari Bapak David, yang mengajak peserta memperkuat kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan, termasuk untuk menjawab tantangan kesehatan mental.

 

Berita Terbaru

Agenda Mendatang

 

20

November

Kunjungan Fakultas Psikologi UNJANI

22-29

November

International Student Mobility ke Edith Cowan University

1-2

Desember

Workshop OBE

1-5

Desember

Ujian Akhir Semester
Fakultas Psikologi, Jurusan Psikologi, Kuliah Psikologi, Sarjana Psikologi, Magister Psikologi, Jakarta, FPSI Untar, Universitas Tarumanagara